TIMES MANUKWARI, SURABAYA – Keberhasilan saudara merantau ke kota menjadi motovasi tingginya urbanisasi ke kota besar seperti Surabaya. Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim mengingatkan perlunya penguatan antar kepala daerah untuk mencegah warganya mengadu nasib tanpa dibekali keahlian yang mumpuni.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim dari Dapil Surabaya Fuad Benardi, mengingatkan para pemudik agar tidak sembarangan membawa teman atau saudara dari kampung halaman untuk mengadu nasib di Kota Pahlawan usai Lebaran.
Menurutnya, datang ke kota besar tanpa bekal keterampilan justru bisa menjadi bumerang, bukan solusi.
“Jangan karena semangat kebersamaan saat mudik, lalu semua diajak ke Surabaya untuk cari kerja, padahal belum punya keahlian apa-apa. Niatnya bantu, tapi bisa jadi malah menjerumuskan,” ujar Fuad, Sabtu (5/4/2025).
Fenomena urbanisasi, menurut Fuad, selalu muncul setelah arus balik Lebaran. Kota-kota besar seperti Surabaya menjadi tujuan favorit, namun tak semua pendatang siap bersaing di tengah kerasnya hidup perkotaan.
“Surabaya ini terbuka, tapi juga penuh tantangan. Banyak orang datang berharap pekerjaan, tapi kenyataannya tak sedikit yang akhirnya hidup serba pas-pasan karena tidak punya bekal keterampilan,” jelas putra mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini ini.
Fuad menilai, urbanisasi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai persoalan baru, mulai dari pengangguran, kemiskinan perkotaan, hingga meningkatnya beban sosial dan infrastruktur kota.
Ia mendorong agar para pemudik bijak mengambil keputusan. Daripada ikut-ikutan datang ke kota, lebih baik fokus membangun potensi di kampung halaman, apalagi jika belum memiliki keahlian khusus.
“Kalau memang belum siap, belum ada skill atau peluang jelas, sebaiknya tetap tinggal di daerah. Banyak potensi desa yang bisa dikembangkan asal kita kreatif dan mau belajar,” tambahnya.
Fuad juga mengajak para kepala daerah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi untuk memperkuat program pelatihan vokasi dan pemberdayaan ekonomi di daerah, agar masyarakat tak harus ke kota untuk sekadar mencari penghidupan.
“Kalau desa bisa maju, orang enggak perlu ke kota. Yang penting pemerataan pembangunan dan akses pelatihan kerja yang merata,” pungkasnya.
Seperti di Kota Surabaya, data triwulan pertama pada 2024 misalnya, terdapat kenaikan jumlah penduduk Surabaya sebesar 21.423 jiwa dibandingkan data penduduk pada akhir tahun 2023.
Jumlah tersebut membuat jumlah penduduk Surabaya menyentuh 3.009.286 jiwa hingga pertengahan Maret 2024.
Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya pada Januari-Juni 2024, sebanyak dua kecamatan yang memiliki jumlah penduduk pindah masuk paling besar dari 31 kecamatan di Surabaya.Yakni, Kecamatan Kenjeran (2.230 jiwa), dan Kecamatan Tambaksari (1.684 jiwa). (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Tekan Urbanisasi Pasca Lebaran, Begini Saran Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim
Pewarta | : Lely Yuana |
Editor | : Ronny Wicaksono |